The Blog

UNS – Adanya himbauan untuk melakukan physical distancing membuat banyak orang memilih berdiam diri di rumah. Hal ini dilakukan untuk mencegah penyebaran Covid-19. Seseorang yang memiliki kebiasaan olahraga di luar ruangan, mereka menjadi berpikir dua kali untuk melakukan olahraga di luar rumah karena pemerintan menganjurkan untuk physical distancing.

Dekan Fakultas Keolahragaan (FKOR) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, Dr. Sapta Kunta, M.Pd menyarankan untuk tidak cemas pada masa ini. Banyak olahraga yang bisa dilakukan walau di dalam rumah asalkan sesuai dengan konsep FITT yakni frekuensi, intensitas, tipe olahraga, dan time (waktu).
“Memang itu harus dilakukan supaya Covid-19 ini tidak merajalela. Memang harus perlu physical distancing namun kita tidak perlu cemas untuk tidak bisa berolahraga, karena banyak model-model olahraga yang bisa kita lakukan. Jadi, intinya adalah berolahraga sesuai dengan konsepnya yaitu panduannya adalah FITT ,” papar Dr. Sapta, Senin (6/4/2020).

Selanjutnya, disarankan untuk melaksanakan olahraga yang sifatnya aerobik yang dapat dilakukan dari dalam rumah terutama para Lanjut Usia (Lansia) yang rentan terinfeksi Covid-19
“Kami sarankan untuk olahraga yang bisa dilakukan di rumah khususnya untuk orang-orang yang Lanjut Usia (Lansia). Untuk olahraga bisa yang bersifat aerobik,” jelas Dr. Sapta.

Aerobik dapat dilakukan dengan frekuesi lima kali dalam sepekan. Kegiatan ini dapat dilakukan dengan rentang waktu 15-30 menit saja. Hal-hal yang bersifat aerobik tentu saja yang berhubungan dengan denyut nadi. Ada pun, denyut nadi yang disarankan adalah 60%-70% dari denyut nadi maksimal. Denyut nadi maksimal sendiri adalah 220 dikurangi dengan usia masing-masing. Terdapat olahraga lain yang disarankan pula, olahraga dapat memanfaatkan alat seperti sepeda statis, atau bisa juga hanya dengan jalan di tempat, dan juga mencari referensi lain di YouTube yang sifatnya aerobik.

Dr. Sapta menyarankan untuk melakukan gerakan-gerakan yang intensitasnya rendah namun kontinu.
“Intinya adalah gerakan-gerakan yang intensitasnya rendah dan dilakukan kontinu, bisa 15 menit sampai 30 menit dan itu dilakukan seminggu tidak kurang dari 150 menit artinya kalau 30 menit ya dilaksanakan 5 kali dalam seminggu,” terang Dr. Sapta.

Bagi anak muda dapat melakukan olahraga dengan latihan Tabata. Latihan Tabata ini secara klasik, intensitasnya adalah melakukan aktivitas 20 detik dan istirahat selama 10 detik. Aktivitas yang dilakukan selama 20 detik tersebut, terwujud dalam 8 jenis latihan seperti sirkuit. Gerakan 1 dilakukan selama 20 detik dan begitu seterusnya dengan intensitas yang tinggi dan berselang-seling. Hal ini apabila dilakukan bersama keluarga akan lebih mengasyikkan.

Ketika melakukan olahraga di rumah, jangan lupa untuk didahului dengan pemanasan yakni gerakan-gerakan ringan untuk meningkatkan suhu tubuh selama 3-5 menit. Dilanjutkan dengan latihan inti. Hal terakhir yang tak boleh terlewatkan adalah melakukan pendinginan

1 Comment

  1. A WordPress Commenter - April 27, 2020

    Hi, this is a comment.
    To get started with moderating, editing, and deleting comments, please visit the Comments screen in the dashboard.
    Commenter avatars come from Gravatar.

Leave a Comment

Your email address will not be published.

Your Comment*

Name*

Email*

Website

PHP Code Snippets Powered By : XYZScripts.com